Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan
Utbah bin Ghazwan

Utbah bin Ghazwan

Diantara Muslimin yang lebih dulu masuk
Islam, diantara Muhajirin yang pertama yang
hijrah ke Habsyi, kemudian ke Madinah dan
diantara pemanah pilihan yang tak banyak
jumlahnya yang telah berjasa besar dijalan
Allah, terdapatlah seorang laki-laki yang
berperawakan tinggi dengan muka bercahaya
dan rendah hati, namanya ‘Utbah bin
Ghazwan.
Ia adalah orang ketujuh dari kelompok tujuh
perintis yang berbaiat menjabat tangan kanan
Rasulullah saw dengan tangan kanan mereka
untuk bersedia menghadapi orang-orang
Quraisy yang sedang memegang kekuatan
dan kekuasaan serta gemar menuruti hawa
nafsu angkara.
Pada hari-hari pertama dimulainya dakwah,
dan pada hari penderitaan dan kesukaran,
‘Utbah bersama kawan-kawannya telah
memegang teguh suatu prinsip hidup yang
mulia yang kemudian kelak menjadi bekal dan
makanan bagi hati nurani manusia dan akan
berkembang menjadi luas melalui
perkembangan masa.
Sewaktu Rasulullah saw menyuruh sahabat-
sahabat nya hijrah ke Habsyi, maka ‘Utbah
pun termasuk diantara orang-orang
Muhajjirin itu. Tetapi kerinduan kepada Nabi
saw tidak membiarkannya untuk menetap
disana, segeralah ia menjelajahi daratan dan
mengarungi lautan untuk kembali ke Mekkah,
lalu tinggal disana disamping Rasulullah saw
hingga datang saatnya hjijrah ke Madinah,
maka ‘Utbah pun hijrah bersama kaum
Muslimin lainnya.
Dan semenjak orang-orang Quraisy
melakukan gangguan dan melancarkan
peperangan, ‘Utbah selalu membawa panah
dan tombaknya. Ia melemparkan tombaknya
dengan ketepatan yang luar biasa, dan
bersama kawan-kawannya, orang-orang
mukmin lainnya ia menggunakan panah itu
untuk menghancurkan alam hidup dan
berpikir using dengan segala berhala dan
segala kebohongannya.
Di waktu Rasulullah saw yang mulia wafat
menemui Rabb Yang Maha Tinggi, ia belum
lagi hendak meletakkan senjatanya, bahkan ia
selalu berkelana untuk berperang di muka
bumi. Dan ketika berhadapan dengan tentara
Persi, ia melakukan perjuangan yang tiada
taranya.
Amirul Mukminin ‘Umar mengirimkannya ke
Ubullah untuk membebaskan negeri itu dan
membersihkan buminya dari orang-orang
persi yang menjadikannya sebagai batu
loncatan untuk menghancurkan kekuatan
Islam yang sedang maju melintas wilayah-
wilayah kerajaan Persi, serta untuk
membebaskan negeri Allah dan hamba Nya
dari cengkeraman penjajahan mereka. Dan
berkatalah ‘Umar kepadanya sewaktu
melepaskannya bersama tentaranya,
“berjalanlah anda bersama anak buah anda
hingga sampai batas terdekat negeri Persi!
Pergilah dengan restu Allah dan berkah Nya!
Serulah ke jalan Allah siapapun yang mau dan
bersedia. Dan siapa yang menolak hendaklah
ia membayar pajak. Dan bagi setiap
penantang maka pedanglah bagiannya tanpa
pandang bulu. Tabahlah menghadapi musuh
serta bertakwalah kepada Allah.
Pergilah ‘Utbah memimpin pasukannya yang
tidak seberapa besar hingga sampai ke
Ubullah. Ketika itu orang-orang Persi telah
menyiapkan bala tentara mereka yang terkuat.
‘Utbahpun menyusun kekuatannya dan
berdiri di muka pasukannya sambil
membawa tombak di tangannya yang belum
pernah meleset dari sasarannya semenjak ia
berkenalan dengan tombak. Ia berseru di
tengah-tengah tentaranya, “Allahu Akbar,
shadaqa wa’dah, Allah Maha Besar, Dia
menepati janjiNya.”
Dan seolah-olah ia dapat membaca apa yang
akan terjadi, karena tak lama setelah terjadi
pertempuran kecil, Ubullah pun menyerah
dan daerahnya dibersihkan dari tentara Persi.
Sedangkan penduduknya terbebas dari
kekejaman yang selama ini mereka rasakan
tak ubahnya seperti neraka, dan benarlah
Allah yang Maha Besar itu telah menepati
janji-Nya!
Di tempat berdirinya Ubullah itu, ‘Utbah
membangun kota Bashrah dengan dilengkapi
saran perkotaan termasuk sebuah masjid
besar. Dan sekarang ia bermaksud
meninggalkan negeri itu dan kembali ke
Madinah, menjauhkan diri dari urusan
pemerintahan, tapi Amirul Mukminin ‘Umar
keberatan dan menyuruhnya untuk tetap
disana.
‘Utbah pun memenuhi keinginan khalifah,
membimbing rakyat melaksanakan sholat,
member pengertian dalam soal agama,
menegakkan hukum dengan adil, serta
member contoh teladan yang sangat teladan
tentang kezuhudan, wara’ dan
kesederhanaan. Dengan tekun dikikisnya
kemewahan dan sikap berlebih-lebihan sekuat
dayanya, sehingga hal itu menjengkelnya
yang dipengaruhi oleh nikmat kesenangan
dan hawa nafsu.
Pada suatu hari, ‘Utbah pun berdiri berpidato
di tengah-tengah mereka, ia berkata, “Demi
Allah, sesungguhnya telah kalian lihat aku
bersama Rasulullah saw sebagai salah
seorang kelompok tujuh yang tak punya
makanan kecuali daun-daun kayu, sehingga
bagian dalam mulut kami pecah-pecah dan
luka-luka! Di suatu hari aku memperoleh
rezeki berupa sehelai baju burdah, lalu
kubelah dua, yang sebelah kuberikan kepada
Sa’ad bi Malik dan sebelah lagi kupakai untuk
diriku.
‘Utbah sangat menakuti dunia yang akan
merusak agamanya, dan ia pun menakuti hal
yang serupa terhadap kaum Muslimin. Karena
itu, ia selalu membimbing mereka kepada
kesederhanaan dan hidup bersahaja. Banyak
orang yang mencoba hendak mengubah
pendiriannya dan membangkitkan dalam
jiwanya kesadaran sebagai penguasa serta
hak-haknya sebagai seorang penguasa,
terutama di negeri-negeri yang raja-rajanya
belum terbiasa dengan zuhud dan hidup
sederhana, sementara penduduknya
menghargai tanda-tanda lahiriah yang
berlebihan dan gemerlapan terhadap hal-hal
ini, ‘Utbah menjawabnya dengan ucapan,
“Aku berlindung diri kepada Allah dari
sanjungan orang terhadap diriku, karena
kemewahan dunia, tetapi kecil di sisi Allah.”
Dan tatkala dilihatnya rasa keberatan pada
wajah-wajah orang banyak karena sikap
kerasnya untuk membawa mereka kepada
kewajaran dan hidup sederhana, ia pun
berkata kepada mereka, ”besok lusa akan
kalian lihat pimpinan pemerintahan dipegang
oleh orang lain menggantikan aku”
Dan datanglah musim haji, diwakilkannya
pemerintahan Bashrah kepada salah seorang
temannya, kemudian ia pergi menunaikan
ibadah haji sewaktu ia telah menunaikan
ibadahnya, ia pun berangkat ke madinah, dan
disana ia memohon kepada Amirul Mukminin
agar diperkenankan mengundurkan diri dari
pemerintahan.
Tetapi ‘Umar tidak hendak menyia-nyiakan
corak kepribadian dari orang-orang zuhud
seperti ini yang menjauhkan diri dari barang
yang amat didambakan yang menjadi incaran
orang-orang lain. Beliau pernah berkata
kepada mereka, “apakah kalian hendak
menaruh amanah diatas pundakku, kemudian
kalian tinggalkan aku memikulnya seorang
diri? Tidak! Demi Allah tidak kuizinkan untuk
selama-lamanya!”
Dan demikian lah pula yang diucapkannya
kepada ‘Utbah bin Ghazwan, sehingga
karenanya, mau tak mau ‘Utbah harus patuh
dan taat. Maka ia pergi menuju kendaraannya
dan menungganginya kembali ke Bashrah.
Tetapi sebelum naik keatas kendaraan itu, ia
menghadap kearah kiblat, lalu mengangjkat
kedua telapak tangannya yang lemah lunglai
itu ke langit sambil memohon kepada Allah
‘Azzawajalla agar ia tidak dikembalikan ke
Bashrah dan tidak pula kepada pimpinan
pemerintahan untuk selama-lamanya dan
doanya pun dikabulkan oleh Allah sewaktu ia
dalam perjalan ke wilayah pemerintahannya
maut datang menjemputnya. Roh nya naik ke
pangkuan ciptaannya, bersuka cita dengan
perngorbanan, darma baktinya, kezuhudan
dan kesahajaan. Begitupun karena nikmat
yang telah disempurnakan Nya dan oleh
karena pahala yng telah disediakan-Nya untuk
dirinya.
Dikutip dari : Serial Karakteristik Perihidup 60
Sahabat Rasulullah
Umar Bin Khottob

Umar Bin Khottob

"Ya Allah...buatlah Islam ini kuat dengan masuknya salah satudari kedua orang ini.
Amr binHisham atau Umarbin Khattab."
Salah satu dari doa Rasulullah pada saat Islam masih dalam tahap awal penyebaran dan masih lemah.
Doa itu segera dikabulkan oleh Allah.
Allah memilih Umar bin Khattab sebagai salah satu pilar kekuatan islam, sedangkan Amr bin
Hisham meninggal sebagai Abu Jahal.
Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah saw.
Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatmah.
Perawakannya tinggibesar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan
tangannya, jenggot yang lebat dan berwajahtampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan.
Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy.
Beliau merupakan khalifah kedua didalam islam setelahAbu Bakar As Siddiq.
Nasabnya adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qarth bin
Razah bin 'Adiy bin Ka'abbin Lu'ay bin Ghalib.
Nasab beliau bertemu dengan nasab Nabi pada kakeknya Ka'ab.
Antara beliau dengan Nabi selisih 8 kakek.
lbu beliau bernama Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah al-Makhzumiyah.
Rasulullah memberi beliau "kun-yah"Abu Hafsh (bapak Hafsh)
karena Hafshah adalah anaknya yang paling tua;dan memberi"laqab" (julukan) al Faruq.
Sebelum masuk Islam,Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang yang keras permusuhannya
dengan kaum Muslimin, bertaklid kepada ajaran nenek moyangnya, dan melakukan perbuatan-
perbuatan jelek yang umumnya dilakukan kaum jahiliyah, namun tetap bisa menjaga harga diri.
Beliau masuk Islam pada bulan Dzulhijah tahun ke-6 kenabian, tiga hari setelah Hamzah bin Abdul
Muthalib masuk Islam.
Ringkas cerita, pada suatu malam beliau datang ke Masjidil Haram secara sembunyi-sembunyi untuk
mendengarkan bacaanshalat Nabi.Waktu itu Nabi membaca surat al-Haqqah.
Umar bin Khattab kagum dengan susunan kalimatnya lantas berkata pada dirinya sendiri-"Demi
Allah, ini adalah syair sebagaimana yang dikatakan kaum Quraisy."Kemudian beliau
mendengar Rasulullah membaca ayat 40-41 (yang menyatakan bahwa Al Qur'an bukan syair),
lantas beliau berkata, "Kalau begitu berarti dia itu dukun." Kemudian beliau mendengar
bacaan Nabi ayat 42, (Yang menyatakan bahwa Al-Qur'an bukan perkataan dukun.)
 akhirnya beliauberkata, "Telah terbetik lslam di dalam hatiku." Akan tetapi karena
kuatnya adat jahiliyah,fanatik buta, pengagungan terhadap agama nenek moyang,
maka beliau tetap memusuhi Islam.
Kemudian pada suatu hari,beliau keluar dengan menghunus pedangnyabermaksud membunuh Nabi.
Dalam perjalanan,beliau bertemu dengan Nu`aim bin Abdullah al'Adawi, seorang laki-laki
dari Bani Zuhrah.
Lekaki itu berkata kepada Umar bin Khattab, "Mau kemana wahai Umar?"
Umar bin Khattab menjawab, "Aku ingin membunuh Muhammad." Lelaki tadi
berkata, "Bagaimana kamu akan aman dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah,kalau kamu membunuh
Muhammad?" Maka Umar menjawab, "Tidaklah aku melihatmu melainkan
kamu telah meninggalkan agama nenek moyangmu."Tetapi lelaki tadi menimpali,
 "Maukah aku tunjukkan yang lebih mencengangkanmu, hai Umar?
Sesuugguhnya adik perampuanmu dan iparmu telah meninggalkan agama yang kamu yakini."
Kemudian dia bergegas mendatangi adiknya yang sedang belajar Al Qur'an,surat Thaha kepada
Khabab bin al Arat.
Tatkala mendengar Umar bin Khattab datang, maka Khabab bersembunyi.
Umar bin Khattab masuk rumahnya dan menanyakan suara yang didengarnya.
Kemudian adik perempuan Umar bin Khattab dan suaminya berkata, "Kami tidak
sedang membicarakan apa- apa." Umar bin Khattab menimpali,"Sepertinyakalian telah
keluar dari agamanenek moyang kalian." Iparnya menjawab, "wahai Umar,
apa pendapatmu jika kebenaran itu bukan berada pada agamamu?"
Mendengar ungkapan tersebut Umar bin Khattab memukulnya hinggaterluka dan
berdarah, karena tetap saja saudaranya itu mempertahankan agama Islam yang dianutnya,
Umar bin Khattab berputus asadan menyesal melihat darah mengalir pada iparnya.
Umar bin Khattab berkata, 'Berikan kitab yang ada pada kalian kepadaku, aku
ingin membacanya.' Maka adik perempuannya berkata," Kamu itu kotor.
Tidak boleh menyentuh kitab itu kecuali orang yang bersuci.Mandilah terlebih dahulu!"
lantas Umar bin Khattab mandi dan mengambil kitab yang ada
pada adik perempuannya.
Ketika dia membaca surat Thaha, dia memuji dan muliakan isinya, kemudian minta ditunjukkan
keberadaan Rasulullah.
Tatkala Khabab mendengar perkataan Umar bin Khattab,dia muncul dari persembunyiannya dan
berkata, "Aku akan beri kabar gembira kepadamu,wahai Umar! Aku berharap engkau
adalah orang yang didoakan Rasulullah pada malam Kamis, 'Ya Allah,
muliakan Islam.dengan Umar bin Khatthab atau Abu Jahl (Amru) bin Hisyam.' Waktu itu,
Rasulullah berada di sebuah rumah di daerah Shafa.
" Umar bin Khattab mengambil pedangnyadan menuju rumah tersebut, kemudian
mengetuk pintunya. Ketika ada salah seorang melihat Umar bin Khattab datang dengan pedang
terhunus dari celah pintu rumahnya,dikabarkannya kepada Rasulullah.
 Lantas mereka berkumpul. Hamzah bin Abdul Muthalib bertanya,"Ada apa kalian?" Mereka
menjawab, 'Umar (datang)!" Hamzah bin Abdul Muthalib berkata, "Bukalah pintunya. Kalau
dia menginginkan kebaikan, maka kita akan menerimanya, tetapi kalau menginginkan kejelekan,
maka kita akan membunuhnya dengan pedangnya." Kemudian Nabi menemui Umar bin
Khattab dan berkata kepadanya. "... Ya Allah, ini adalah Umar bin Khattab.Ya Allah, muliakan Islam
dengan Umar bin Khattab."Dan dalam riwayat lain:"Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan Umar."
Seketika itu pula Umar binKhattab bersyahadat, dan orang-orang yang berada di rumah tersebut
bertakbir dengan keras.Menurut pengakuannya dia adalahorang yang ke-40 masuk Islam.
 Abdullah bin Mas'ud berkomentar,"Kami senantiasa berada dalam kejayaan semenjak
Umar bin Khattab masuk Islam."Kepemimpinan Umar bin Khattab Keislaman beliau telah
memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam. Beliau adalah pemimpin yang adil,
bijaksana,tegas, disegani,dan selalu memperhatikan urusan kaum muslimin.
Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan keimanan,merobohkan kesyirikan dan kekufuran,menghidupkan sunnah dan mematikan bid'ah. Beliau adalah orang
yang paling baik dan paling berilmu tentang al-Kitab dan as-Sunnah setelah Abu Bakar As Siddiq.
Kepemimpinan Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya.Seorang tokoh besar
setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Siddiq.
Pada masa kepemimpinannya kekuasaan islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan
Persia, Mesir, Syam, Irak,Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan,Basrah, Kufah dan Kairo.
Dalam masa kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah,penaklukan-penaklukan pentingdilakukan Islam.
Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampukkekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam
menduduki Suriah dan Palestina, yang kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium.
Dalam pertempuran Yarmuk (636), pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan Byzantium.
Damaskus jatuh pada tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian.
Menjelang tahun 641,pasukan Islam telah\menguasai seluruh
Palestina dan Suriah, dan terus menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639,
pasukan Islam menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium.
Dalam tempo tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.
Penyerangan Islam terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran
Persia telah mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah.
Kunci kemenangan Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa
kekhalifahan Umar bin Khattab.
Menjelang tahun 641,seseluruh Irak sudah berada di bawah pengawasan Islam.
Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu langsung Persia dan dalam
pertempuran Nehavend (642), mereka secara menentukan mengalahkan sisa terakhir kekuatan
Persia. Menjelang wafatnya Umar bin Khattab di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran
sudah terkuasai sepenuhnya.
Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat.
Di bagian timur mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka
mendesak terus dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.
Selain pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas.
Dalam masalah ilmu diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata,
”Seandainya ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan
ilmu seluruh penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain,niscaya ilmu Umar bin Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabatpun berpendapat bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau menelurkan konsep-konsep baru, seperti
menghimpun Al Qur’an dalam bentuk mushaf,menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat
Islam, membentuk kas negara (Baitul Maal),menyatukan orang-orang yang melakukan sholat
sunah tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan,membentuk lembaga
perkantoran, membangun balai pengobatan,membangun tempat penginapan, memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan,menetapkan hukuman cambuk bagi peminum "khamr" (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk,mencetak mata uang dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.
Namun dengan begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati.Justru beliau seorang
pemimpin yang zuhud lagi wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi kebutuhan
rakyatnya. Dalam satu riwayat Qatadah berkata,”Pada suatu hari Umar bin Khattab memakai jubah
yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu
itu beliau adalah seorang khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk
menjamu orang-orang.”Abdullah, puteranyaberkata,Umar bin Khattab berkata,”Seandainya ada anak
kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh
Allah SWT.”Beliaulah yang lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang,Beliau berjanji tidak akan makan minyak samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya…
Tidak diragukan lagi,khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana dan adil
dalam mengendalikan roda pemerintahan.Bahkan ia rela keluarganya hidup dalam serba kekurangan
demi menjaga kepercayaanm masyarakat kepadanya tentang pengelolaan kekayaan negara.
Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat salat Jum'at hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua baju.
Kebijaksanaan dan keadilan Umar binKhattab ini dilandasi oleh kekuatirannya terhadap
rasa tanggung jawabnya kepada Allah SWT.Sehingga jauh-jauh hari Umar bin Khattab sudah
mempersiapkan penggantinyajika kelak dia wafat. Sebelum wafat,Umar berwasiat agar
urusan khilafah dan pimpinan pemerintahan, dimusyawarahkan oleh enam orang yang telah
mendapat ridha Nabi SAW.
Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair binl
Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash,danAbdurrahman bin Auf.
Umar menolak menetapkan salah seorang dari mereka, dengan berkata, aku tidak mau
bertanggung jawab selagi hidup sesudah mati.
Kalau AIlah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan melahirkannya atas kebaikan mereka
(keenam orang itu) sebagaimana telah ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu.
Wafatnya Umar bin Khattab Pada hari Rabu bulan Dzulhijah tahun 23 H Umar Bin Kattab wafat, Beliau
ditikam ketika sedang melakukan Shalat Subuh oleh seorang Majusi yang bernama Abu Lu’luah,
budak milik al-Mughirah bin Syu’bah diduga ia mendapat perintah dari kalangan Majusi.
Umar bin Khattab dimakamkan di samping Nabi saw dan Abu Bakar as Siddiq, beliau wafat dalam usia 63 tahun.
Kisah Taubatnya Malik Bin Dinar,Sang Manusia Zalim

Kisah Taubatnya Malik Bin Dinar,Sang Manusia Zalim

"Ya Allah Ampunilah Dosa-Dosaku"Kehidupanku dimulai  dengan kesia-siaan,
mabuk-mabukan,maksiat, berbuat zhalim kepada manusia,
memakan hak manusia,memakan riba, dan memukuli manusia.
Kulakukan segala kezhaliman, tidak ada satu maksiat melainkan aku telah melakukannya.
Sungguh sangat jahat hingga manusia tidak menghargaiku karena kebejatanku.
Malik bin Dinar Rohimahullah menuturkan: Pada suatu hari, aku merindukan pernikahan 

dan memiliki anak.
Maka kemudian aku menikah dan dikaruniai seorang puteri yang kuberi nama Fathimah.
Aku sangat mencintai Fathimah.
Setiap kali dia bertambah besar, bertambah pula
keimanan di dalam hatiku dan semakin sedikit maksiat di dalam hatiku.
Setiap kali dia bertambah besar,semakin bertambah pula 

keimanan di dalam hatiku. 
Setiap kali aku mendekatkan diri kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala selangkah, maka setiap
kali itu pula aku menjauhi maksiat sedikit demi sedikit.

Hingga usia Fathimah genap tiga tahun, saat itulah Fathimah meninggal dunia.
Maka akupun berubah menjadi orang yang lebih buruk dari sebelumnya. 

Aku belum memiliki sikap sabar
yang ada pada diri seorang mukmin yang
dapat menguatkanku di atas cobaan musibah.
Kembalilah aku menjadi lebih buruk dari sebelumnya.
Setanpun mempermainkanku,hingga datang suatu
hari, setan berkata kepadaku: "Sungguh
hari ini engkau akan mabuk-mabukan
dengan mabuk yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya."
Maka aku bertekad untuk mabuk dan meminum khamr sepanjang malam. 

Aku minum, minum dan minum. 
Maka aku lihat diriku telah terlempar di alam mimpi.
Di alam mimpi tersebut aku melihat hari kiamat.
Matahari telah gelap,lautan telah berubah
menjadi api, dan bumipun telah bergoncang. 

Manusia berkumpul pada hari kiamat. 
Manusia dalam keadaan berkelompok-kelompok. Sementara
aku berada di antara manusia, mendengar seorang penyeru
memanggil: Fulan ibn Fulan, kemari! Mari menghadap al-Jabbar.
Aku melihat si Fulan tersebut berubah
wajahnya menjadi sangat hitam karena sangat ketakutan.
Sampai aku mendengar seorang penyeru
menyeru namaku: "Mari menghadap al-Jabbar!"
Kemudian hilanglah seluruh manusia dari
sekitarku seakan-akan tidak ada seorangpun di padang Mahsyar.
Kemudian aku melihat seekor ulat besar yang ganas lagi kuat merayap
mengejar kearahku dengan membuka mulutnya. 

Akupun lari karena sangat ketakutan. 
Lalu aku mendapati seorang laki-laki tua yang lemah.
Akupun berkata: "Hai,selamatkanlah aku dari
ular ini!" Dia menjawab:"Wahai anakku aku lemah, aku tak mampu,
akan tetapi larilah kearah ini mudah-mudahan engkau selamat!"
Akupun berlari kearah yang ditunjukkannya, sementara 

ular tersebut berada di belakangku.
Tiba-tiba aku mendapati api ada dihadapanku. Akupun berkata:
"Apakah aku melarikan diri dari seekor ular untuk menjatuhkan diri
ke dalam api?" Akupun kembali berlari dengan cepat sementara 

ular tersebut semakin dekat.
Aku kembali kepada lelaki tua yang lemah tersebut dan berkata:
"Demi Allah, wajib atasmu menolong dan menyelamatkanku."
Maka dia menangis karena iba dengan keadaanku seraya
berkata: "Aku lemah sebagaimana engkau lihat, aku tidak mampu
melakukan sesuatupun, akan tetapi larilah
kearah gunung tersebut mudah-mudahan engkau selamat!"
Akupun berlari menuju gunung tersebut
sementara ular akan mematukku. Kemudian
aku melihat di atas gunung tersebut
terdapat anak-anak kecil, dan aku mendengar semua anak
tersebut berteriak: "Wahai Fathimah tolonglah ayahmu, tolonglah ayahmu!"
Selanjutnya aku mengetahui bahwa dia adalah putriku. 

Akupun berbahagia bahwa aku mempunyai seorang
putri yang meninggal pada usia tiga tahun yang akan
menyelamatkanku dari situasi tersebut. 

Maka diapun memegangku dengan tangan
kanannya, dan mengusir ular dengan tangan kirinya
sementara aku seperti mayit karena sangat ketakutan. Lalu dia
duduk di pangkuanku sebagaimana dulu di dunia.
Dia berkata kepadaku: "Wahai ayah, "belumkah datang
waktunya bagi orang- orang yang beriman,
untuk tunduk hati mereka mengingat Allah."
Maka kukatakan: "Wahai putriku,beritahukanlah kepadaku tentang ular itu."
Dia berkata: "Itu adalah amal keburukanmu, engkau telah
membesarkan dan menumbuhkannya hingga hampir memakanmu. 

Tidakkah engkau tahu wahai ayah, bahwa amal-amal
di dunia akan dirupakan menjadi sesosok bentuk
pada hari kiamat? Dan lelaki yang lemah
tersebut adalah amal shalihmu, engkau telah
melemahkannya hingga dia menangis karena
kondisimu dan tidak mampu melakukan
sesuatu untuk membantu kondisimu.
Seandainya saja engkau tidak melahirkanku, dan
seandainya saja tidak mati saat masih kecil,
tidak akan ada yang bisa memberikan manfaat kepadamu."
Dia Rohimahullah berkata: Akupun terbangun dari tidurku 

dan berteriak: "Wahai Rabbku, sudah saatnya
wahai Rabbku, ya, "Belumkah datang waktunya bagi orang- orang yang beriman,
untuk tunduk hati mereka mengingat Allah."

 Lantas aku mandi dan keluar untuk shalat subuh dan ingin segera bertaubat dan
kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. 

Dia Rohimahullah berkata: Akupun masuk ke dalam masjid dan
ternyata imampun membaca ayat yang
sama: "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman,
untuk tunduk hati mereka mengingat
Allah." Itulah kisah taubatnya
Malik bin Dinar Rohimahullah yang beliau kemudian menjadi salah seorang
imam generasi tabi'in,dan termasuk ulama
Basrah. Dia dikenal selalu menangis sepanjang malam dan
berkata: "Ya Ilahi, hanya Engkaulah satu-satunya
Dzat Yang Mengetahui penghuni sorga dan
penghuni neraka, maka yang manakah aku di
antara keduanya? Ya Allah, jadikanlah aku termasuk penghuni
sorga dan jangan jadikan aku termasuk penghuni neraka."
Malik bin Dinar Rohimahullah bertaubat dan dia dikenal pada
setiap harinya selalu berdiri di pintu masjid berseru: "Wahai para
hamba yang bermaksiat,kembalilah kepada
Penolong-mu! Wahai orang-orang yang lalai, kembalilah kepada
Penolong-mu! Wahai orang yang melarikan diri (dari ketaatan),
kembalilah kepada Penolong-mu!
Penolong-mu senantiasa menyeru memanggilmu 

di malam dan siang hari. Dia berfirman kepadamu:
"Barangsiapa mendekatkan dirinya kepada-Ku satu jengkal,
maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu hasta.
Jika dia mendekatkan dirinya kepada-Ku satu
hasta, maka Aku akan mendekatkan diri-Ku kepadanya satu depa.
Siapa yang mendatangi- Ku dengan berjalan,
Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil."
Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala 

agar memberikan rizki taubat kepada kita.
Tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau,
Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku
termasuk orang-orang yang zhalim.
Malik bin Dinar Rohimahullah wafat pada tahun 130 H.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala merahmatinya dengan

 rahmat-Nya yang luas.
(kisahislam)
Sumber
Kisah Nabi Ayub As Dan Istrinya Yang Sangat Setia

Kisah Nabi Ayub As Dan Istrinya Yang Sangat Setia






Alkisah,suatu ketika Nabi Ayub as diuji oleh Allah.
      Hartanya yang berupa peternakan dan perkebunan itu ludes terbakar.Tetapi Ayub tetap sabar karena merasa harta benda yang dimilikinya itu adalah titipan.Dia ikhlas melepaskan jika Allah menghendaki.namun istri-istrinya banyak yang mengeluh .Hanya salah seorang istrinya yang bernama  Sarah,ia mempunyai pikiran yang sejalan dengan suaminya.
    Tak lama setelah musibah itu menimpa,disusul dengan peristiwa yang sangat menyedihkan.
Semua anak-anak Ayub mati tertimpa tiang rumah sodaranya.Ketika itu mereka sedang makan malam dan angin meniup kencang dan merobohkannya.Tetapi Ayub menghadapinya dengan sabar.
Padahal para pengikutnya yang beriman merasa bersedih melihat kejadian yang bertubi-tubi itu.
        Menyusul kejadian itu,Ayub jatuh sakit.Semakin lama tubuhnya semakin kurus.Melihat suaminya yang demikian itu,Sarah ikut perihatin.Wanita itu khawatir,jangan-jangan Ayub bersedih hati karena cobaan tersebut.
             ‘’Tubuhmu semakin lama semakin kurus dan kurang semangat.Apakah engkau bersedih memikirkan kejadian yang menimpa rumah tangga kita?’’tegur Sarah suatu ketika.
     ‘’Tidak.Musibah yang terjadi merupakan ujian.Harta dan anak-anak adalah titipan.Jika Allah menghendaki,maka aku harus ikhlas melepaskannya,;;jawab Ayub.
        ‘’Tetapi engkau semakin kurus.Apa yang kau pikirkan,wahai suamiku?’’
     ‘’Aku tidak memikirkan apa-apa.Tetapi akhir-akhir ini aku merasa ada perubahan di tubuhku.Mungkinkah aku terkena penyakit?’’kata Ayub.
         Semakin lama penyakit Ayub semakin parah .Kulitnya melepuh kemudian pecah mengeluarkan air berbau busuk.Luka-lukanya tak bias sembuh.Semakin hari semakin menyedihkan.Luka-luka di tubuhnya mengeluarkan bau yang sangat anyir.Bahkan luka-luka tersbut keluar nanah dan ulat.
        Istri-istri Ayub menjadi tak tahan.Kemudian mereka meminta cerai dan meninggalkan suaminya.
Sikap yang demikian itu menandakan mereka mereka tidak setia kepada Ayub.Meskipun demikian,Ayub tetap sabar dan menceraikan merek.Hanya seorang istri yang sangat setia dan tidak mau meninggalkan Ayub.Dia adalah Sarah.
Wanita itu rajin sekali merawat suaminya dan menemaninya dengan setia.
           Cobaan yang ditimpakan kepada Ayub tidaklah berhenti sampai di situ.Tetapi terus berlanjut.
Umatnya satu demi satu meninggalkan dirinya.Bahkan yang lebih menyedihkan orang-orang di kota  di kota itu mengusir Ayub.
Dengan alas an takut tertular penyakitnya.
       Dengan tertatih-tatih Sarah membimbing suaminya pergi keluar kota,menjauhi mereka.Dalam keadaan yang bagaimana pun Sarah berjanji akan setia menemaninya.
            Mereka terus berjalan tanpa tujuan.Secara kebetualan suami istri itu menemukan gubuk reot.
Mereka berhenti dan menetap disana.Bangunan reot itu dijadikan sebagai tempat tinggal.Untuk menyambung hidup,Sarah terpaksa harus bekerja.Wanita itu kemudian diterima untu bekerja di pabrik roti.Setiap hari ia mendapatkan dua potong roti sebagai ongkos kerjanya.Roti itu dibawa pulang dan diberikan kepada Ayub yang terbaring lemas di gubuk reotnya.
          Tetapi keadaan itu tidak berlangsung lama.Juragan roti mendengar kalau suami Sarah menderita penyakit yang menjijkan.Ia khawatir Sarah membawa baksil penyakit Ayub dan menularkan ke pabriknya.Sarah dipecat dari pekerjaannya.
       Hari-hari setelah itu tak ada lagi bahan makanan.
Ayub semakin lemas.Sementara Sarah menunggui dengan hati pilu.Ia mencari cara bagaimana mendapatkan roti untuk menyambung hidup mereka.
        Akhirnya ia menemukan akal.Segera Sarah menemui juragannya dan bermaksud meminjam uang.
Tetapi sang juragan menolak .Ia mau memberikan uang jika Sarah berkenan menjual rambutnya.Sarah memang memiliki rambut yang sangat bagus dan mungkin paling bagus dari wanita-wanita pada saat itu.
         Juragan roti itu mau menukar dua potong roti dengan rambut Sarah.Apa boleh buat,dengan terpaksa Sarah menjual rambutnya.Dengan hati pilu,ia relakan rambutnya yang bagus itu dipotong.
Ia lalu pulang membawa dua potong roti.
       Tetapi Ayub tidak malah senang melihat kedatangan istrinya membawa Roti.Nabi Allah itu kecewa melihat rambut Sarah yang menjadi pendek .Ia menganggap sarah tidak lagi setia kepadanya.Namun Sarah menjelaskan dengan tulus,semua itu dilakukan demi kesetiaan kepada suaminya.Ringkas cerita ,Allah kemudian menyembuhkan penyakit Ayub.Ia menjadi lelaki tampan dan sehat seperti  semula.
Kedunya hidup bahagia kembali.
       Dari cerita itu dapatlah dijadikan sebagai teladan.
Betapa besar kesetiaan Sarah kepada suaminya.Padahal istri-istri Ayub lainnya sudah minta cerai karena tak tahan berdampingan dengan penderita penyakit menjijikan.Namun Sarah tetap setia merawat Ayub.Itulah cermin wanita shalihah yang setia kepada suaminya.




Kisah Seorang Shalih Bernama Abu Bakar al- Misky

Kisah Seorang Shalih Bernama Abu Bakar al- Misky

 Nama aslinya adalah Abu Bakar.
Sedangkan al-Misky adalah gelar yang diberikan orang-orang kepadanya.
Al-Misky artinya, yang harum seperti minyak kasturi.
Ia menyandang gelar ini karena tubuhnya seharum minyak kasturi, 
padahal ia tak pernah menyentuh minyak wangi.
Abu Bakar adalah seorang lelaki yang tampan, tak sedikit wanita yang tergila-gila.
Namun, Abu Bakar juga adalah seorang yang shalih, sekuat apa pun 
godaan yang dihadapinya, ia selalu dapat melaluinya. 
Ia selalu dapat menjaga aturan-aturan Allah swt.
Tentang bau tubuhnya inilah banyak orang bertanya-tanya. 
Apa yang menjadi sebab ia bisa memiliki tubuh seharum itu?
Maka Abu Bakar bercerita bahwa hal itu berkaitan dengan sebuah kejadian, 
“Suatu hari, tersebutlah seorang wanita ahli zina memperdayaiku”
Saat aku melewati rumah wanita itu, aku mendengar teriakan minta tolong. 
Segera saja aku masuk ke rumah itu dengan
maksud untuk memberikan pertolongan. 
Namun ternyata, teriakan itu hanyalah tipuan belaka.
Setelah aku masuk, segera si wanita tadi mengunci pintu rapat- rapat. 
Baru aku sadar, aku masuk ke dalam jebakannya.
Aku memaksa wanita itu untuk membiarkanku pergi dari rumahnya.
Namun wanita itu menolak. Aku baru boleh keluar dari rumah itu dengan satu
syarat. Aku harus melakukan zina dengannya. Tubuhku bergidik, dadaku panas,
bulu kudukku berdiri, kepalaku bergolak, membayangkan aku harus melakukan dosa besar itu. Bagaimana pun itu adalah sebuah dosa yang tak termaafkan. 
Aku tetap memaksa untuk pergi.
Tapi wanita itu malah balik mengancam: “kalau kau tetap
memaksa pergi, aku akan berteriak dan meminta tolong kepada
orang-orang karena kau masuk ke rumahku dan hendak memeperkosa aku.”
Sungguh, saat itu aku hamper kehilangan akal. Tak terbayangkan,
bagaimana mungkin aku bisa melakukan perbuatan dosa itu? 
Namun, Allah masih menyayangiku, Dia memberikan petunjuk- Nya kepadaku. Aku katakan kepada wanita
itu, aku mau melakukan dosa besar itu dengannya, tapi tunjukkan dulu
kepadaku letak kamar mandi. Aku hendak buang hajat terlebih dahulu.
Wanita itu menunjukkan letak kamar mandi di rumahnya. 
Segera saja aku masuk ke sana.
Dan di dalam kamar mandi itu, aku lumurkan kotoran ke
sekujur tubuhku. Aku relakan tubuh bersihku dinodai kotoran ini. 
Biarlah bau busuk ini ada di tubuhku, asal aku bisa terhindar dari
dosa besar itu. Meski baunya terus menusuk- nusuk hidungku, meski
rasa jijik membayangi seluruh sarafku, meski
perutku mulas bergejolak seolah hendak mengeluarkan seluruh isinya, aku rela.
Aku rela asal terhindar dari dosa besar itu.
Biarlah penderitaan ini aku rasakan. 
Sebab penderitaan ini hanya sementara.
Sebab bau busuk ini tak akan lama.
Sebab siksaan ini tak sebanding dengan siksaan neraka yang abadi.
Sebab penderitaan ini terlalu remeh untuk dibandingkan dengan
penderitaan di akhirat nanti. 
Sebab bau busuk ini tak sebanding dengan bau busuk
neraka yang akan tercium hingga ke tempat yang teramat
sangat jauh. Biarlah… biarlah … aku rela. Asal Allah rela dengan diriku.
Aku keluar dari kamar mandi dan kutemui wanita laknat itu.
Melihat tubuhku yang menjijikan, wanita itu kehilangan seleranya. 
Ia usir aku dari rumahnya.
Kujatuhkan tubuhku ke atas tanah, bersujud syukur atas karunia-Nya yang telah
menyelamatkan aku dari dosa besar itu. Aku berjanji aku akan lebih berhati-hati.
Setelah aku bersihkan tubuhku. 
Di malam harinya, aku bermimpi bertemu dengan
seorang suci.
Dan ia memberitahuku bahwa Allah ridlo dengan apa
yang aku lakukan, dan akan memberikan karunia-Nya kepadaku.
Esok harinya, aku dapati tubuhku seharum minyak kasturi.
Mungkin, itulah karunia Allah bagi orang-orang yang selalu berusaha
berbuat iffah: menjaga dan menghindarkan diri dari perbuatan dosa zina.
gholextrezz@gmail.com. Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog

Toad Jumping Up and Down

Pengikut